Bagai perempuan tanpa vagina:Penulis transgender berbagi kisahnya

2019
05/21
08:05

金沙国际网址/ 国际/ Bagai perempuan tanpa vagina:Penulis transgender berbagi kisahnya

2017年1月3日上午11:11发布
更新时间:2017年2月3日上午10:23

Penulis Merlyn Sopjan berbicara dalam bedah buku terbarunya di Malang,Jawa Timur,di Pesta Sejuta Buku,pada 2 Januari 2017. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka

Penulis Merlyn Sopjan berbicara dalam bedah buku terbarunya di Malang,Jawa Timur,di Pesta Sejuta Buku,pada 2 Januari 2017. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka

印度尼西亚马朗 - “Jika sedang berada di bandara misalnya,dan ingin ke toilet,Mbak Merlyn ingin masuk ke toilet apa,wanita atau laki-laki?”

Pertanyaan tersebut muncul dalam sesi bedah buku berjudul Wo(w)Man milik penulis transgender,Merlyn Sopjan,sebagai bagian dari pameran bertema Pesta Sejuta Buku yang berlangsung hingga 4 Januari di Malang,Jawa Timur。

Buku berisi 19 kumpulan cerita pendek yang diilhami dari pengalaman penulis itu sengaja diberi label 21+ pada sampulnya。

Pada acara bedah buku yang berlangsung Senin petang,2 Januari,ada banyak pertanyaan serupa yang dilontarkan pengunjung kepada si penulis yang seorang transgender。 Misalnya,seperti jika meninggal akan dimakamkan sebagai perempuan atau laki-laki,atau tentang mengapa dia memilih menjadi transgender,dan mengapa banyak waria atau transgender yang melacur。

Merlyn,yang terlahir sebagai pria dengan nama Aryo Pamungkas,menjawab semua pertanyaan,terkadang dengan membagikan sejumlah kisah pada buku barunya。

“Saya melabeli 21+ bukan karena konten seks,tetapi karena saya menyebutkan penis dan vagina,”kata nya dalam sesi bedah buku di Malang。

Misalnya,seperti cerita seorang pekerja seks dalam cerita pendek berjudul Blackberry Merlyn mencoba menawarkan pandangannya bahwa melacur adalah pekerjaan halal,meskipun tak ada orang yang bercita-cita menjadi pelacur。

Menghidupi keluarga dengan menjual tubuh sendiri,dengan berbagai risiko dan perlakuan yang tidak layak。

“Seperti TKI [Tenaga Kerja Indonesia] kita,juga banyak diperlakukan tidak layak。 Tetapi itu usaha mereka sendiri。 Tidak seperti koruptor,mengambil hak orang untuk menghidupi dirinya sendiri,“katanya。

Merlyn,yang merasa menjadi seorang perempuan sejak usia 4 tahun,menjadi waria pada 1998. Ia menyatakan transgender bukanlah pilihan。

Seperti kaum difabel,dirinya terlahir perempuan namun tanpa memiliki阴道。

“Saya ada alat reproduksi penis,tetapi itu tak sesuai dengan jiwa saya。 Seperti Perempuan Tanpa Vagina ,“kata Merlyn seraya menyebutkan salah satu judul cerita pendeknya。

Buku setebal 153 halaman itu menjadi buku ketiga Merlyn,setelah vakum hampir 10 tahun sejak buku keduanya muncul。 Buku keduanya yang terbit pada 2005 itu diberi judul Jangan Lihat Kelaminku Transgender kelahiran Kediri itu berharap bukunya mampu memberikan wawasan baru tentang hal-hal yang sering dialami kelompok minoritas,seperti pelacur ataupun transgender。

“Jika ada hal yang dianggap tidak baik pada buku,ya,jangan dilakukan。 Itu tanggung jawab masing-masing kepada Tuhan dan sosial。 Bahwa dalam hidup ada pilihan,tidak berarti jika tidak sama dengan yang lain,kita salah,“ujarnya。 -Rappler.com

免责声明:本文来自金沙国际网址新闻客户端自媒体,不代表金沙国际网址的观点和立场。